Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...
Di sini, aku hanya ingin menjelaskan maksud dari diamku yang menurutmu tiba-tiba. Aku diam bukan karena aku tidak ingin bicara, tapi aku hanya ingin beristirahat dari repatisi membosankan yang selama ini kulakukan bersamamu. Bosan? Iya aku bosan. Sangat bosan. Semua bukan lagi tentang status, tapi tentang siap atau tidak. Bukannya kita sudah membicarakan ini? Katamu, kamu menginginkan kebebasan. Begitu pula denganku. Aku ingin, kita berteman selayaknya teman biasa. Saling menyapa setiap kali bertemu tanpa membawa perasaan dalam situasi apapun. Aku muak jika harus terus-terusan membawa perasaan. Karena perasaan seperti apa yang bisa kubawa jika bersamamu? Jujur, aku tidak terpikir untuk memiliki urusan hati dengan siapapun untuk saat ini. Aku jenuh. Aku belum siap dengan segala repatisi membosankan; mengabari setiap hari, basa-basi menanyakan sedang apa/ sudah makan atau belum? Lagi pula, bukan hubungan seperti itu yang kumau. Aku bukan tipe orang yang melihat keseriusan dari seberapa...