Langsung ke konten utama

Postingan

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...
Postingan terbaru

Yang Harus Kamu Tau

Di sini, aku hanya ingin menjelaskan maksud dari diamku yang menurutmu tiba-tiba. Aku diam bukan karena aku tidak ingin bicara, tapi aku hanya ingin beristirahat dari repatisi membosankan yang selama ini kulakukan bersamamu. Bosan? Iya aku bosan. Sangat bosan. Semua bukan lagi tentang status, tapi tentang siap atau tidak. Bukannya kita sudah membicarakan ini? Katamu, kamu menginginkan kebebasan. Begitu pula denganku. Aku ingin, kita berteman selayaknya teman biasa. Saling menyapa setiap kali bertemu tanpa membawa perasaan dalam situasi apapun. Aku muak jika harus terus-terusan membawa perasaan. Karena perasaan seperti apa yang bisa kubawa jika bersamamu? Jujur, aku tidak terpikir untuk memiliki urusan hati dengan siapapun untuk saat ini. Aku jenuh. Aku belum siap dengan segala repatisi membosankan; mengabari setiap hari, basa-basi menanyakan sedang apa/ sudah makan atau belum? Lagi pula, bukan hubungan seperti itu yang kumau. Aku bukan tipe orang yang melihat keseriusan dari seberapa...

Tanda Tanya

Memilikimu memang sebuah ketidakmungkinan untuk terjadi. Terkecuali jika Pencipta memang sengaja menuliskan takdir bersatu bagi kita. Menunggumu, bukanlah satu hal yang bisa kujanjikan. Hingga detik ini saja, aku sudah merasa lelah. Memang aku tidak menyesali perasaan sepihak ini. Namun, ada kalanya hatiku merengek kesakitan, juga nalar yang berteriak memintaku berhenti. Berhenti untuk menaruh sepenuh rasa terhadap sosok yang selalu berusaha berpaling. Juga memintaku berhenti untuk menyakiti hati tanpa henti. Kedamaian setelah bertemu denganmu, tak lagi kutemukan. Kamu seolah meluluhlantakkan sejagatku. Raga yang seharusnya mampu menopang tubuh ini dengan tegap, menjadi lemas tak berdaya. Pemikiran cerdas yang dimiliki, seolah digerogoti rayap hingga berubah menjadi bodoh- rasanya otakku seperti kayu yang mudah rapuh. Juga hati yang seharusnya kujaga, malah kuberikan pada sosok yang jelas jelas sudah tidak jelas. Ada apa dengan diriku? Apa aku sedang berada di mabuk asmara? Sepe...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...

Sebuah Renungan

Pernahkah kamu berada pada titik di mana segala usahamu hanya berakhir sia-sia? Setelah semua pengorbanan yang kamu lakukan tak membuahkan hasil apapun. Tidak seperti yang diharapkan. Rasanya seperti berada dalam titik rendah kehidupan. Terancam musnah seperti spesies yang terus diburu sehingga tak lagi memiliki harapan hidup yang lebih lama. Tidak hanya kamu yang merasakannya, tapi aku juga pernah berada di posisi seperti itu. Jujur, aku tidak tahu bagaimana caranya bangkit di waktu itu. Yang bisa kulakukan hanyalah merenung. Apapun yang telah kulakukan, berbagai kesalahan ataupun kebenaran yang pernah kubuktikan semuanya aku renungkan. Memikirkan apa yang membuat semua itu terjadi. Iya alasannya. Memang benar kan, sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Jika tidak ada, bagaimana sesuatu itu bisa terjadi? Tidak hanya merenung. Tapi juga mencari dan belajar. Mencari makna dan mempelajarinya. Berusaha melihat segala sesuatu dari berbagai sisi dan menghilangkan ego sejenak. In...

Kisah Tanah Eropa

Jujur, aku mulai jatuh cinta pada setiap negeri yang ada disana. Sama seperti aku jatuh cinta padamu di hari itu. Nggak nyambung juga sih, hubungannya Eropa sama kamu itu apa? Tapi aku punya jawabannya; alasanku jatuh cinta pada negeri-negeri itu adalah karena aku tau, bahwa suatu hari nanti salah satu negeri di tanah Eropa itu akan kamu tapaki. Karena aku tau, bahwa untuk beberapa waktu ke depan kamu akan menjadikan salah satu negeri itu sebagai tempatmu menimba ilmu. Juga karena aku tau, bahwa salah satu dari negeri-negeri itu ada yang paling kamu suka dan menjadikanmu semangat untuk menata masa depan. Iya, di negeri itulah kamu akan tinggal. Kamu pernah bilang bahwa kamu tak ingin sekadar tinggal sementara di sana, tapi kamu ingin selamanya berada di sana. Dan jika nanti kesuksesan telah kamu raih, kamu berjanji untuk membawa kedua orang tuamu menetap bersama di sana. Dan kamu juga berjanji, untuk memulai hidup baru bersama wanita yang kelak menjadi cinta terakhirmu. Walaupun k...

Teruntuk Hati Yang Patah

Aku paling nggak ngerti, kenapa selalu aja ada manusia yang merasa bahwa dirinyalah yang paling tersakiti, dirinyalah yang paling terzalimi atas berbagai kejadian yang menimpa mereka. Dan mereka ngerasa kayak gitu tanpa melihat ke sisi lain, di mana masih banyak orang yang memiliki masalah hidup jauh lebih berat dari masalahnya. Kalau dilihat-lihat, masalah hidup orang itu tuh nggak jauh dari patah hati, atau segala sesuatu yang berurusan dengan hubungan nggak jelas. Bahkan ada juga yang mikir, kalau masalah patah hati itu adalah sesuatu yang cukup serius dan cukup bahaya - saking sakitnya -dibanding masalah lainnya. Heran sih kenapa masih ada yang punya pemikiran kayak gitu. Padahal kalo dipikir-pikir, perihal patah hati itu bukanlah hal yang mesti dibesar-besarkan. Karena pada dasarnya, patah hati akan semakin sakit jika kamu terlalu mendramatisir keadaan yang sebetulnya nggak usah dibikin drama. Persoalan patah hati itu bisa jadi sesuatu yang serius dan membahayakan, terg...