Jujur, aku mulai jatuh cinta pada setiap negeri yang ada disana. Sama seperti aku jatuh cinta padamu di hari itu. Nggak nyambung juga sih, hubungannya Eropa sama kamu itu apa? Tapi aku punya jawabannya; alasanku jatuh cinta pada negeri-negeri itu adalah karena aku tau, bahwa suatu hari nanti salah satu negeri di tanah Eropa itu akan kamu tapaki. Karena aku tau, bahwa untuk beberapa waktu ke depan kamu akan menjadikan salah satu negeri itu sebagai tempatmu menimba ilmu. Juga karena aku tau, bahwa salah satu dari negeri-negeri itu ada yang paling kamu suka dan menjadikanmu semangat untuk menata masa depan.
Iya, di negeri itulah kamu akan tinggal. Kamu pernah bilang bahwa kamu tak ingin sekadar tinggal sementara di sana, tapi kamu ingin selamanya berada di sana. Dan jika nanti kesuksesan telah kamu raih, kamu berjanji untuk membawa kedua orang tuamu menetap bersama di sana. Dan kamu juga berjanji, untuk memulai hidup baru bersama wanita yang kelak menjadi cinta terakhirmu. Walaupun kamu masih merasa entah dengan sosok tersebut. Tapi aku berharap bahwa, sosok yang kelak menjadi cinta terakhirmu itu adalah aku.
Semua hal di dunia ini memang bukanlah tentang dirimu saja. Dulu aku merasa bahwa kesukaanku terhadap sesuatu yang baru itu adalah karena dirimu. Tapi sekarang aku sadar, bahwa alasan aku menjadi suka adalah karena aku tertarik. Iya. Sama seperti ketika aku jatuh cinta pada setiap negeri di Eropa. Aku bukan jatuh cinta karena tampaknya yang terkesan 'negara maju'. Melainkan karena aku tertarik pada sejarah yang tersimpan di dalam bangunan-bangunan tua di sana. Megah dan indah, berharap suatu saat aku bisa menginjakkan kaki untuk menjelajahinya. Begitupun soal kamu. Aku jatuh hati padamu, bukan karena aku suka dengan tampang polosmu. Tapi karena aku melihat sesuatu dari dalam dirimu yang -lambat laun aku sadari- ternyata tidak dimiliki orang lain. Dan aku yakin, hanya kamulah satu-satunya orang yang memiliki keistimewaan itu. Aku tidak bisa menyebutkan keistimewaanmu di sini. Aku juga tidak tau siapa saja yang menyadari keistimewaanmu itu. Dan jikalau hanya aku yang diamanahi Tuhan untuk mengetahui keistimewaanmu itu, aku berjanji untuk menjaganya.
Saat kamu bilang bahwa kamu sangat ingin berada di negeri itu. Ada sebuah harap yang tiba-tiba hadir dan menghuni hatiku hingga saat ini. Semangat. Iya, rasa itu yang menjadi penghuni hatiku sampai detik ini. Semangat untuk kembali mengejar mimpi yang sudah lama tidak kuperjuangkan. Sebuah mimpi yang terlalu lama kutimbun dengan segala repatisi tak berarti dalam hidup. Yang membosankan, dan membuatku terlalu nyaman berada di zona ini.
Dulu, aku bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan di salah satu negeri Eropa. Tapi sesuatu yang menjadi semangatku, malah pergi. Hal-hal yang membuatku menggebu-gebu untuk meraih impian itu, seolah tak lagi menyemangatiku. Dan ketika aku bertemu denganmu, aku merasa ada sesuatu yang harus aku perjuangkan kembali. Selain kamu yang kuanggap sebagai sosok yang membuatku akhirnya berani mengungkapkan. Aku jadi tau kemana tujuan hidup ini. Keyakinan besar mulai kudapatkan. Aku jadi semakin percaya, bahwa jalan yang telah Ia tuliskan untukku pasti indah. Lebih indah dari yang kubayangkan.
Mungkin kamulah yang akan menginjakkan kaki di negeri itu terlebih dahulu. Mungkin juga waktu akan merubah masing-masing rasa yang ada di antara kita. Dan raga ini menjadi penentu terhadap sesuatu yang akan kita terima di waktu mendatang. Ketika Tuhan menjadi satu-satunya sandaran. Ketika tekad akan menjadi penguat jiwa saat lelah. Dan juga, ketika hati meneguhkan pilihan untuk menjadikan kita sebagai yang terakhir untukku dan kamu. Sama ketika aku akan merancang sebuah perjalanan, di mana negeri tempat kamu memperjuangkan mimpi, akan menjadi tujuanku untuk mengakhiri petualanganku di tanah Eropa.

Komentar
Posting Komentar