Memilikimu memang sebuah ketidakmungkinan untuk terjadi. Terkecuali jika Pencipta memang sengaja menuliskan takdir bersatu bagi kita. Menunggumu, bukanlah satu hal yang bisa kujanjikan. Hingga detik ini saja, aku sudah merasa lelah. Memang aku tidak menyesali perasaan sepihak ini. Namun, ada kalanya hatiku merengek kesakitan, juga nalar yang berteriak memintaku berhenti. Berhenti untuk menaruh sepenuh rasa terhadap sosok yang selalu berusaha berpaling. Juga memintaku berhenti untuk menyakiti hati tanpa henti. Kedamaian setelah bertemu denganmu, tak lagi kutemukan. Kamu seolah meluluhlantakkan sejagatku. Raga yang seharusnya mampu menopang tubuh ini dengan tegap, menjadi lemas tak berdaya. Pemikiran cerdas yang dimiliki, seolah digerogoti rayap hingga berubah menjadi bodoh- rasanya otakku seperti kayu yang mudah rapuh. Juga hati yang seharusnya kujaga, malah kuberikan pada sosok yang jelas jelas sudah tidak jelas. Ada apa dengan diriku? Apa aku sedang berada di mabuk asmara? Sepe...
" Ketika bibir ini tak mampu berucap. Mungkin tulisan ini bisa menyampaikannya padamu "