Memilikimu memang sebuah ketidakmungkinan untuk terjadi. Terkecuali jika Pencipta memang sengaja menuliskan takdir bersatu bagi kita. Menunggumu, bukanlah satu hal yang bisa kujanjikan. Hingga detik ini saja, aku sudah merasa lelah. Memang aku tidak menyesali perasaan sepihak ini. Namun, ada kalanya hatiku merengek kesakitan, juga nalar yang berteriak memintaku berhenti. Berhenti untuk menaruh sepenuh rasa terhadap sosok yang selalu berusaha berpaling. Juga memintaku berhenti untuk menyakiti hati tanpa henti. Kedamaian setelah bertemu denganmu, tak lagi kutemukan. Kamu seolah meluluhlantakkan sejagatku. Raga yang seharusnya mampu menopang tubuh ini dengan tegap, menjadi lemas tak berdaya. Pemikiran cerdas yang dimiliki, seolah digerogoti rayap hingga berubah menjadi bodoh- rasanya otakku seperti kayu yang mudah rapuh. Juga hati yang seharusnya kujaga, malah kuberikan pada sosok yang jelas jelas sudah tidak jelas. Ada apa dengan diriku? Apa aku sedang berada di mabuk asmara? Seperti inikah rasanya menjadi bodoh? Seperti inikah rasanya menjadi korban dari keegoisan diri? Ternyata rasanya sungguh menyiksa.
Mungkin ini hanya soal waktu. Waktu yang tak mau menungguku untuk sekadar melupakanmu sejenak sebelum akhirnya benar-benar menghilang dalam nyata.
Terkadang aku ingin menyalahkan semesta, kenapa selalu mampu untuk mempertemukanku denganmu lagi? Di saat rasa yang sama belum bisa kuhapus. Kenapa harus kamu yang kutemui? Di antara sekian banyaknya laki-laki yang Tuhan ciptakan, kenapa hatiku harus berlabuh padamu?! Bodohnya aku, sudah tau ini menyiksa, kenapa kulanjutkan dan membiarkan rasa ini tumbuh? Lebih bodohnya, aku selalu meng-iya-kan setiap ajakkan pertemuan darimu.
Meski di hadapanmu aku bersikap biasa. Bukan berarti rasaku sudah menjadi biasa juga. Perasaanku belum berubah. Entah kapan ini akan berubah, aku berharap secepatnya. Aku berharap semoga Tuhan menghapus rasaku, sehingga hati ini kembali pulih dari rasa sakit yang kubuat sendiri. Kupikir memiliki sebuah rasa istimewa terhadapmu adalah suatu keputusan yang tepat untuk menjadikan dirimu sebagai sosok terakhir bagiku berlabuh. Namun nyatanya tidak. Rasanya tidak mungkin aku membiarkan diri ini tersiksa di tujuan terakhir. Aku juga ingin bahagia. Dan aku rela jika harus bahagia tanpamu.
Katamu, melupakan sosok yang dicintai itu adalah perkara keliru. Namun setelah kupikir lebih lanjut, tidak juga. Apa yang membuat seseorang memilih melupakan sosok daripada rasa, ya karena rasa itu timbul dari hadirnya sosok tersebut. Mana mungkin hati terjatuh tanpa landasan? Anggaplah landasan itu adalah seseorang, bagaimana bisa jatuh hati jika tak ada sosok yang membuat hati terjatuh?
Setelah 262 hari kulalui semenjak kamu berterima kasih, aku mengalami kebingungan akan teka teki yang Pencipta berikan. Demi menemukan satu jawaban pasti di antara dua pilihan yang selama ini kupertimbangkan. Yaitu; menunggumu untuk kubahagiakan atau melepasmu agar kamu bahagia.

Komentar
Posting Komentar