Langsung ke konten utama

Tanda Tanya


Memilikimu memang sebuah ketidakmungkinan untuk terjadi. Terkecuali jika Pencipta memang sengaja menuliskan takdir bersatu bagi kita. Menunggumu, bukanlah satu hal yang bisa kujanjikan. Hingga detik ini saja, aku sudah merasa lelah. Memang aku tidak menyesali perasaan sepihak ini. Namun, ada kalanya hatiku merengek kesakitan, juga nalar yang berteriak memintaku berhenti. Berhenti untuk menaruh sepenuh rasa terhadap sosok yang selalu berusaha berpaling. Juga memintaku berhenti untuk menyakiti hati tanpa henti. Kedamaian setelah bertemu denganmu, tak lagi kutemukan. Kamu seolah meluluhlantakkan sejagatku. Raga yang seharusnya mampu menopang tubuh ini dengan tegap, menjadi lemas tak berdaya. Pemikiran cerdas yang dimiliki, seolah digerogoti rayap hingga berubah menjadi bodoh- rasanya otakku seperti kayu yang mudah rapuh. Juga hati yang seharusnya kujaga, malah kuberikan pada sosok yang jelas jelas sudah tidak jelas. Ada apa dengan diriku? Apa aku sedang berada di mabuk asmara? Seperti inikah rasanya menjadi bodoh? Seperti inikah rasanya menjadi korban dari keegoisan diri? Ternyata rasanya sungguh menyiksa.

Mungkin ini hanya soal waktu. Waktu yang tak mau menungguku untuk sekadar melupakanmu sejenak sebelum akhirnya benar-benar menghilang dalam nyata.
Terkadang aku ingin menyalahkan semesta, kenapa selalu mampu untuk mempertemukanku denganmu lagi? Di saat rasa yang sama belum bisa kuhapus. Kenapa harus kamu yang kutemui? Di antara sekian banyaknya laki-laki yang Tuhan ciptakan, kenapa hatiku harus berlabuh padamu?! Bodohnya aku, sudah tau ini menyiksa, kenapa kulanjutkan dan membiarkan rasa ini tumbuh? Lebih bodohnya, aku selalu meng-iya-kan setiap ajakkan pertemuan darimu.

Meski di hadapanmu aku bersikap biasa. Bukan berarti rasaku sudah menjadi biasa juga. Perasaanku belum berubah. Entah kapan ini akan berubah, aku berharap secepatnya. Aku berharap semoga Tuhan menghapus rasaku, sehingga hati ini kembali pulih dari rasa sakit yang kubuat sendiri. Kupikir memiliki sebuah rasa istimewa terhadapmu adalah suatu keputusan yang tepat untuk menjadikan dirimu sebagai sosok terakhir bagiku berlabuh. Namun nyatanya tidak. Rasanya tidak mungkin aku membiarkan diri ini tersiksa di tujuan terakhir. Aku juga ingin bahagia. Dan aku rela jika harus bahagia tanpamu.

Katamu, melupakan sosok yang dicintai itu adalah perkara keliru. Namun setelah kupikir lebih lanjut, tidak juga. Apa yang membuat seseorang memilih melupakan sosok daripada rasa, ya karena rasa itu timbul dari hadirnya sosok tersebut. Mana mungkin hati terjatuh tanpa landasan? Anggaplah landasan itu adalah seseorang, bagaimana bisa jatuh hati jika tak ada sosok yang membuat hati terjatuh?

Setelah 262 hari kulalui semenjak kamu berterima kasih, aku mengalami kebingungan akan teka teki yang Pencipta berikan. Demi menemukan satu jawaban pasti di antara dua pilihan yang selama ini kupertimbangkan. Yaitu; menunggumu untuk kubahagiakan atau melepasmu agar kamu bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...