Langsung ke konten utama

Tentang Sebuah Langkah


Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini.

Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh.

Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga sebuah perkara kecil dapat kamu sadari. Bersyukurnya, kamu bukanlah sosok yang menegur secara meledak-ledak. Melontarkan kalimat menyakitkan hati, ataupun hal lainnya yang membuatku merasa semakin bersalah bahkan menilai diri sendiri bodoh. Jujur, aku merasa beruntung dipertemukan dengan sosok sepertimu.

Dalam setiap perjalananku, sekarang yang ada hanyalah pikiran dan juga hati yang saling bertengkar untuk menentukan sebuah pilihan. Tentang kemana arah langkahku, di mana aku mencari sosok diriku, dan kapan aku bisa melupakan perasaanku padamu. Sebenarnya, selama ini yang kulakukan adalah berusaha melupakan. Aku sadar, melupakan sosokmu bukanlah pilihan yang tepat, karena tak ada yang salah dengan sosokmu. Yang salah adalah sebuah rasa yang semakin lama tumbuh tanpa diminta. Iya, rasa itu ada di hatiku. Dan memang hanya aku yang merasakannya. Kamu? Pasti tidak akan pernah merasakan hal yang sama. Ada satu hal yang kusadari, mau sejauh apapun aku mengejar langkahmu, jika semesta tak mengizinkanku untuk beriringan denganmu, mana mungkin aku akan ada di sampingmu?

Berbicara tentang langkah, aku jadi teringat akan satu hal yang membuatku ingin membulatkan tekad. Yaitu sebuah langkah untuk pergi. Aku tidak tau, sampai kapan aku tahan menyukaimu, aku pun tidak bisa mengira, sekuat apa aku untuk menyembunyikan sebuah luka karena rasa yang hanya ada dalam hatiku, dan tidak ada padamu.

Jika aku sudah putus asa dalam mencintaimu, apa namamu masih tetap layak untuk kulangitkan? Apakah mendoakanmu masih menjadi kewajibanku sebagai pusat harapan terakhir? Seperti yang pernah kubilang, aku tidak akan pernah memaksamu untuk tetap tinggal. Aku juga tidak akan memaksamu untuk terus ada. Karena aku tau, luka yang akan kudapatkan itu sifatnya kekal. Tidak mudah reda sakitnya, apalagi pulih. Aku kasihan dengan diriku yang harus tersiksa hanya karena keegoisan hatiku.

Setelah melalui banyak langkah kecil bersamamu, ternyata langkahku menjadi semakin lambat, sementara langkahmu semakin besar. Itu membuatku tertinggal di belakang. Aku sudah mencoba untuk berlari dan menyesuaikan langkah kakiku denganmu. Namun sepertinya Tuhan berkata lain. Ia menghendakimu untuk melangkah jauh lebih cepat yang tak bisa kukejar. Sosokmu yang semakin lama menjadi samar hingga akhirnya menghilang. Membuatku tertinggal di belakang, dan meratapi perginya sosokmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...