Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan?
Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, tidak terjadi apa-apa, dan kamu hanya malas membuka Whatsapp. Tapi kenyataan yang kudapat dari sikapmu tidak begitu adanya.
Mungkin aku berlebihan jika terus menyalahkan diri sendiri hanya karena melihat perubahan sikapmu yang menjadi sangat acuh. Ada perasaan khawatir jika aku mengatakan suatu hal yang menyinggung. Dan lagi, kamu bilang bahwa aku tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan sikapmu belakangan ini. Aku berusaha untuk mengerti dan memintamu bercerita jika berkenan. Lalu kamu mau membagi cerita itu padaku. Kamu bilang bahwa posisimu saat ini sangat membingungkan. Perihal masa depan yang terasa tidak pasti. Aku mengerti betapa membingungkannya posisimu, dan aku ingin coba membantu. Tapi ternyata, arah pembicaraan yang kucoba bangun tentang usahamu untuk pergi ke sana, disalah artikan. Mungkin kamu berpikir bahwa aku meragukan impianmu itu. Padahal tidak sama sekali. Bahkan, aku sangat yakin kalau kamu bisa pergi ke sana dan mengejar apa yang selama ini kamu cita-citakan. Dan aku sangat mendukungmu. Tapi apalah daya, tidak semua hal baik akan selalu dianggap baik, kan?
Selesai dengan cita-citamu. Aku mencoba untuk menghubungimu lagi, kali ini untuk mengajak bercanda. Waktu itu, aku benar-benar tengah membutuhkan asupan lawakan darimu. Tapi itu tidak berjalan baik. Kamu malah tidak membalas pesanku. Padahal, jika aku lihat dari status 'terakhir dilihat' kontakmu, kamu selalu membuka Whatsapp. Berbeda dengan sebelumnya, aku memilih untuk tidak menanyakan apapun lagi padamu. Pesanku yang lama saja tidak dibaca sama sekali, lalu untuk apa aku bertanya lagi? Aku takut mengganggu. Dan aku membiarkanmu selama seminggu, lalu kembali menyapamu. Terus kamu bilang; ternyata chat kamu tenggelam. Nggak kelihatan. Bodo amat, batinku saat kamu membalas itu. Aku kembali mengajakmu berbicara hal-hal ringan, tapi lagi, kamu semakin terkesan tidak memedulikanku lagi. Sakit hati sih, jujur. Kenapa jadi begitu kelakuanmu?
Kamu itu lucu. Berani menampakkan diri di saat sedang butuh kehadiran, lalu kembali pergi saat merasa sudah tidak butuh. Kamu pikir aku barang? Kamu memperlakukanku seperti barang. Tidak jauh berbeda dengan sosok teman yang pernah kamu ceritakan padaku waktu itu.
Sekarang, aku benar-benar sudah tidak peduli. Hubungan pertemanan yang asalnya asik, selalu dipenuhi canda tawa, dan dibumbui cerita duka di kehidupan masing-masing, berubah jadi sesuatu yang hambar. Bisa begitu ya? Kayaknya, aku baru kali ini bertemu dengan sosok teman sepertimu. Dan ini cukup membuatku muak, mual dan pingin muntah.
Semoga tidak semua manusia bersikap bodoh sepertimu ya. Selamat tinggal.
Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, tidak terjadi apa-apa, dan kamu hanya malas membuka Whatsapp. Tapi kenyataan yang kudapat dari sikapmu tidak begitu adanya.
Mungkin aku berlebihan jika terus menyalahkan diri sendiri hanya karena melihat perubahan sikapmu yang menjadi sangat acuh. Ada perasaan khawatir jika aku mengatakan suatu hal yang menyinggung. Dan lagi, kamu bilang bahwa aku tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan sikapmu belakangan ini. Aku berusaha untuk mengerti dan memintamu bercerita jika berkenan. Lalu kamu mau membagi cerita itu padaku. Kamu bilang bahwa posisimu saat ini sangat membingungkan. Perihal masa depan yang terasa tidak pasti. Aku mengerti betapa membingungkannya posisimu, dan aku ingin coba membantu. Tapi ternyata, arah pembicaraan yang kucoba bangun tentang usahamu untuk pergi ke sana, disalah artikan. Mungkin kamu berpikir bahwa aku meragukan impianmu itu. Padahal tidak sama sekali. Bahkan, aku sangat yakin kalau kamu bisa pergi ke sana dan mengejar apa yang selama ini kamu cita-citakan. Dan aku sangat mendukungmu. Tapi apalah daya, tidak semua hal baik akan selalu dianggap baik, kan?
Selesai dengan cita-citamu. Aku mencoba untuk menghubungimu lagi, kali ini untuk mengajak bercanda. Waktu itu, aku benar-benar tengah membutuhkan asupan lawakan darimu. Tapi itu tidak berjalan baik. Kamu malah tidak membalas pesanku. Padahal, jika aku lihat dari status 'terakhir dilihat' kontakmu, kamu selalu membuka Whatsapp. Berbeda dengan sebelumnya, aku memilih untuk tidak menanyakan apapun lagi padamu. Pesanku yang lama saja tidak dibaca sama sekali, lalu untuk apa aku bertanya lagi? Aku takut mengganggu. Dan aku membiarkanmu selama seminggu, lalu kembali menyapamu. Terus kamu bilang; ternyata chat kamu tenggelam. Nggak kelihatan. Bodo amat, batinku saat kamu membalas itu. Aku kembali mengajakmu berbicara hal-hal ringan, tapi lagi, kamu semakin terkesan tidak memedulikanku lagi. Sakit hati sih, jujur. Kenapa jadi begitu kelakuanmu?
Kamu itu lucu. Berani menampakkan diri di saat sedang butuh kehadiran, lalu kembali pergi saat merasa sudah tidak butuh. Kamu pikir aku barang? Kamu memperlakukanku seperti barang. Tidak jauh berbeda dengan sosok teman yang pernah kamu ceritakan padaku waktu itu.
Sekarang, aku benar-benar sudah tidak peduli. Hubungan pertemanan yang asalnya asik, selalu dipenuhi canda tawa, dan dibumbui cerita duka di kehidupan masing-masing, berubah jadi sesuatu yang hambar. Bisa begitu ya? Kayaknya, aku baru kali ini bertemu dengan sosok teman sepertimu. Dan ini cukup membuatku muak, mual dan pingin muntah.
Semoga tidak semua manusia bersikap bodoh sepertimu ya. Selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar