Aku tidak memintamu untuk mengikuti apa yang kumau. Tapi kamu cukup mengerti apa yang kumaksud. Jikalau nanti kamu membaca tulisan ini, aku harap kamu tidak marah karena kejujuranku. Aku ingin melihat sikap dari setiap hal yang berhasil kamu tuangkan ke dalam sebuah tulisan, dan ingin agar kamu mempertanggung jawabkan apa yang kamu tulis.
Sejak awal, pandanganku terhadap kedatanganmu, tidak lebih dari sekadar melihat orang yang memang ingin menambah teman. Aku tidak bisa melihat apa-apa darimu. Aku tidak melihat sedikitpun rasa ketika kamu menyapaku. Begitu pun aku. Aku bertanya-tanya tentang apa yang kurasa jika menemuimu, dan ternyata tidak ada apa-apa. Pernah kucoba untuk bersikap seadanya. Tapi nyatanya, aku tidak bisa menjadi apa yang aku inginkan saat berbicara denganmu. Kamu tau? Aku seolah dipaksa keadaan untuk selalu bertingkah sok intelek, padahal aku tidak terlalu mengerti. Aku seolah dituntut untuk selalu menguasai hal-hal yang kamu suka, sementara aku sama sekali tidak tertarik dengan topik yang kamu bangun. Topikmu kadang terlalu berat dan serius. Sehingga aku tidak bisa asal bicara jika mau obrolan itu berlanjut. Tapi ada kalanya aku lelah jika harus mengikuti apa-apa yang menjadi seleramu. Aku tidak tahan jika harus menjadi sosok yang bukan diriku. Aku tidak tahan jika harus terlihat nyaman ketika aku berbicara denganmu. Intinya, aku benar-benar tidak bisa.
Tentang obrolan kita. Entah kenapa, walaupun kita selalu berbincang setiap hari. Tapi itu sama sekali tidak membuatku mengerti akan segala tentangmu. Aku sama sekali tidak mengetahui bagaimana sosok kamu yang sebenarnya. Begitu juga kamu. Kamu sama sekali tidak mengenalku dengan baik. Kamu tidak pernah tau bagaimana otakku bekerja untuk berpikir. Kamu tidak pernah tau tentang seperti apa sosok diriku yang sebenarnya. Lihat? Obrolan yang selama ini kita bangun, tidak lantas membuat kita saling mengenal satu sama lain, kan? Itulah sebabnya aku tidak terlalu nyaman.
Jujur, aku tidak tau bagaimana pandanganmu terhadapku setelah berhari-hari aku tidak menyapamu. Mungkin kamu akan mengira jika aku sudah mempermainkan perasaanmu. Padahal tidak. Ada beberapa hal yang perlu kamu tau; aku ini bukan tipikal orang yang bisa memberimu kabar setiap waktu, aku juga bukan orang penting yang kabarnya harus selalu kamu tau, aku tidak bisa jika harus setiap hari berbincang denganmu. Aku hanya ingin bebas. Aku tidak ingin, selama masa remajaku, aku malah tersiksa oleh rasa khawatir akan hati. Itu adalah perkara paling tidak penting yang pernah ada. Aku masih ingin bisa melakukan berbagai hobi, dan jika nanti aku terlalu asyik dengan yang kukerjakan, aku tidak akan merasa bersalah karena belum memberi kabar.
Apa kamu tau kenapa aku sangat menginginkan kebebasan? Karena aku ingin berhenti menyiksa diri dengan segala hal yang tak pasti. Aku tidak tau tentang bagaimana jadinya jika aku masih mempertahankan hubungan dengan orang-orang yang dulu pernah ada, mungkin aku tidak akan sebebas ini. Aku ingin agar masa mudaku dapat kunikmati dengan baik. Bisa mengenal banyak orang dan bersenang-senang dengan siapapun, tanpa harus memikirkan kekhawatiran orang yang sedang menjalin hubungan denganku. Aku muak jika terus-terusan dikekang dengan perasaan tidak jelas dari orang lain. Aku benci jika pasanganku menganggapku aneh-aneh jika tau aku bersenang-senang dengan teman-temanku. Aku malas diatur oleh orang yang tidak penting dan bisanya hanya memberi label 'nakal' padaku ketika aku telat pulang. Aku sudah terlalu lelah berurusan dengan orang yang bisanya hanya menganggapku sebagai wanita yang tak bisa jaga hati, hanya karena aku punya banyak teman laki-laki.
Dalam tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan sebuah argumen yang tak bisa kusampaikan secara lisan padamu. Aku bingung harus memulai obrolan ini dari mana. Aku juga bingung, bagaimana aku bisa mengarahkan obrolan kita agar sampai pada titik ini. Karena yang kulihat ( kamu bisa memberitahuku jika ini salah ) kamu bukanlah orang yang bisa kuajak bicara secara acak.
Selain tentang kesiapan, aku juga ingin menyampaikan bahwa kamu sudah salah tanggap dengan berbagai hal yang kuunggah ( kamu juga bisa mengoreksiku jika dugaanku ini salah ). Mungkin kamu mengira bahwa beberapa unggahan di akun sosial mediaku adalah untukmu. Tapi ternyata bukan kamu tujuanku. Itu untuk orang lain. Sampai detik ini, aku masih belum bisa menghapus perasaanku padanya. Walaupun kami sudah berteman dekat, sedekat nadi. Aku masih merasakan debaran tak biasa setiap kali bertemu dengannya. Aku merasa, banyak perubahan ke arah yang lebih baik selama aku dekat dengannya. Di dekatnya, hatiku bisa terasa jauh lebih tenang. Dan bersamanya, aku bisa menjadi siapapun diriku, tanpa harus memedulikan apakah dia akan suka atau tidak. Lagipula aku ini adalah tipe orang yang apa adanya. Suka ya bilang suka, jika tidak ya kubilang tidak. Meskipun begitu, bukan berarti aku dengannya memiliki hubungan spesial. Aku hanya berteman dengannya. Dan lagi, dia tidak pernah mengatakan apapun, yang kulakukan dengannya juga hanya membicarakan hal-hal receh. Perlakuanku padanya pun begitu, sama saja. Aku tidak memberikan perhatian khusus, karena ya buat apa? Aku hanya sedang menikmati masa-masa mencari. Itu saja.
Kamu tau, aku sangat terkejut saat kamu menyebut pertemanan kita sebagai sebuah kedekatan. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, karena aku rasa, sebuah kedekatan tidak bisa hanya dianggap oleh salah satu pihak saja. Harus jelas dari awal. Barulah saat kamu menyebut kata dekat, aku menganggap kita dekat. Tapi entah kenapa, aku tidak merasa dekat seperti yang kamu utarakan. Sudah kubilang kan? Selama bersamamu, aku tidak merasa kita ini saling mengenal dengan baik. Entah dari mana yang salah, aku bingung.
Dari semua hal yang sudah kusampaikan di atas, aku tidak ingin kamu salah tanggap. Aku harap kamu mengerti. Aku tidak tau, apalagi yang harus kusampaikan agar semua ini menjadi jelas. Pada intinya, dari semua hal yang kutulis, aku hanya ingin benar-benar bebas untuk saat ini.
Komentar
Posting Komentar