Langsung ke konten utama

Teruntuk Hati Yang Patah



Aku paling nggak ngerti, kenapa selalu aja ada manusia yang merasa bahwa dirinyalah yang paling tersakiti, dirinyalah yang paling terzalimi atas berbagai kejadian yang menimpa mereka. Dan mereka ngerasa kayak gitu tanpa melihat ke sisi lain, di mana masih banyak orang yang memiliki masalah hidup jauh lebih berat dari masalahnya. Kalau dilihat-lihat, masalah hidup orang itu tuh nggak jauh dari patah hati, atau segala sesuatu yang berurusan dengan hubungan nggak jelas.
Bahkan ada juga yang mikir, kalau masalah patah hati itu adalah sesuatu yang cukup serius dan cukup bahaya -saking sakitnya-dibanding masalah lainnya. Heran sih kenapa masih ada yang punya pemikiran kayak gitu. Padahal kalo dipikir-pikir, perihal patah hati itu bukanlah hal yang mesti dibesar-besarkan. Karena pada dasarnya, patah hati akan semakin sakit jika kamu terlalu mendramatisir keadaan yang sebetulnya nggak usah dibikin drama.

Persoalan patah hati itu bisa jadi sesuatu yang serius dan membahayakan, tergantung dari cara pandangmu dan juga cara kamu menyikapinya. Ada yang kalau patah hati, dia cuman nangis berhari-hari sampai matanya bengkak, ada juga yang melakukan hal bodoh; bunuh diri. Cuman gara-gara patah hati. Kesannya, kayaknya orang itu tuh nggak bakalan bisa hidup tanpa hadirnya si doi. Sampe bisa bertindak kejauhan kayak gitu. Lupa kali ya? Yang ngasih kehidupan kan Tuhannya, bukan si doi.

Barangkali dulu kamu pernah berdoa pada Tuhan untuk diberikan segala yang terbaik bagi hidup kamu. Inget ya, 'segala'. Ya berarti kalo misalnya nanti kamu punya masalah yang penyelesaiannya memang mengharuskan kamu dan dia untuk berpisah, ya udah. Kan minta yang terbaik dalam segala hal? Terus buat apa masih protes atau ngeluh? Itu kan permintaan kamu? Ya Tuhan kasih apa yang kamu minta jika itu memang yang terbaik. Kamu tau kan, kalau Tuhan itu Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya?

Seharusnya kamu bersyukur kalau Tuhan mematahkan hatimu. Kenapa? Karena mungkin, Tuhan punya maksud untuk menjuhkanmu dari seseorang yang hanya akan membuatmu terluka atau terlalu lama menunggu ketidakpastiannya padamu. Itu tandanya,Tuhan sedang menjagamu dari sosok yang tidak tepat. Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik. Siapa tahu, hari ini kamu patah hati, bisa jadi besok luka di hatimu sudah disembuhkan oleh Yang Maha Kuasa. Dan bahkan Tuhan menghadirkan sosok yang lebih tulus dari sebelumnya. Dia yang kalau datang izin, dan memang benar-benar ingin menetap, membimbing kamu, menjaga kamu, dan akan sekuat tenaga memperjuangkanmu. Jika nanti ada sosok ini, yakinlah bahwa dia tidak hanya dapat memberikan keindahan di dunia, bahkan kebahagiaanmu di hari akhir nanti akan terjamin.

Dengan kejadian patah hati ini, seharusnya kamu sebagai manusia yang berakal, jangan terlalu galau kalo ditinggal atau disakitin sama sosok yang jelas-jelas memang nggak jelas ke kamu.  Balas dendamlah dengan cara yang baik. Maksudnya, berubahlah, perbaiki diri, buatlah orang yang dulu menyia-nyiakanmu merasa menyesal telah mengacuhkanmu. Dan yang pasti, kamu juga harus meluruskan niat, bahwa segala perbaikan yang kamu lakukan pada diri sendiri itu harus semata-mata untuk meraih Ridha-Nya. Bukan karena ingin dilirik kembali oleh masa lalumu. Mungkin kalimat balas dendam ini harus kamu artikan sebagai sebuah semangat. Maksudnya, jika dulu kamu merasa banyak salah dan dosa. Ya kamu balas dengan sebanyak-banyaknya  kebaikan yang bisa kamu lakukan demi menutupi kesalahan dan juga dosamu.

Ditinggal pergi bukan berarti kamu akan sendiri. Justru kepergian itulah yang akan membawa kamu bertemu dengan sang pemilik rindu. Yang jika kamu mengingatnya, hati mu akan damai. Dan jika kamu beranjak menjauhi-Nya, hatimu akan resah. Dengan begini kamu akan sadar, betapa berharganya Dia yang selalu menunggu kehadiranmu. Walau hanya sekadar mengingat-Nya, tapi beribu nikmat akan kamu terima. Kamu juga harus ingat bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Dia pasti akan selalu menunggumu dan juga cintamu. Walaupun Dia tahu, jika kesedihan dan rasa sepi sudah pergi darimu, maka kamu akan kembali pergi dari-Nya. Iya, Dia memang sebaik itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...