Langsung ke konten utama

Sebuah Renungan



Pernahkah kamu berada pada titik di mana segala usahamu hanya berakhir sia-sia? Setelah semua pengorbanan yang kamu lakukan tak membuahkan hasil apapun. Tidak seperti yang diharapkan. Rasanya seperti berada dalam titik rendah kehidupan. Terancam musnah seperti spesies yang terus diburu sehingga tak lagi memiliki harapan hidup yang lebih lama. Tidak hanya kamu yang merasakannya, tapi aku juga pernah berada di posisi seperti itu.

Jujur, aku tidak tahu bagaimana caranya bangkit di waktu itu. Yang bisa kulakukan hanyalah merenung. Apapun yang telah kulakukan, berbagai kesalahan ataupun kebenaran yang pernah kubuktikan semuanya aku renungkan. Memikirkan apa yang membuat semua itu terjadi. Iya alasannya. Memang benar kan, sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Jika tidak ada, bagaimana sesuatu itu bisa terjadi?

Tidak hanya merenung. Tapi juga mencari dan belajar. Mencari makna dan mempelajarinya. Berusaha melihat segala sesuatu dari berbagai sisi dan menghilangkan ego sejenak. Ini adalah sebuah usaha untuk berpikir jernih. Aku tidak bilang jika cara ini akan menghilangkan masalah. Lagipula masalah itu hadir bukan untuk dihilangkan atau dilalui begitu saja. Melainkan untuk dihadapi demi menemukan sebuah makna dari yang terjadi. Cara itu adalah untuk membuka pikiran kita tentang masalah yang terjadi. Cara untuk berpikir dewasa dalam menyelesaikan masalah. Apapun yang terjadi dalam hidup ini pastilah memiliki makna. Baik atau buruk, makna tidak akan memilih salah satu diantara kedua itu. Ia datang sesuai dengan situasi seperti apa yang dapat merubah pola pikirmu yang salah dan harus dibenarkan, agar tak mengulangi kesalahan konyol akibat pemikiranmu yang bodoh.

Segala sesuatu yang terjadi seringkali melahirkan sebuah takdir yang tak diinginkan. Dan setelahnya, kita sebagai manusia hanya bisa menyalahkan takdir yang jelas-jelas tak bersalah. Lucu kadang, kenapa harus menyalahkan takdir? Bukankah takdir itu sudah ditetapkan sejak ruh ditiupkan ya? Jika sudah tau, kenapa masih disalahkan?

Setiap kesalahan pasti mengajarkan sesuatu yang tak bisa kita dapatkan di manapun. Jika akibatnya telah kau hadapi dan kemudian berlalu bersama dengan proses, maka kamu harus berguru pada kesalahan itu. Karena kalau bukan dari kesalahan, kamu belajar darimana untuk memperbaiki diri? Kapan kamu bisa berpikir secara dewasa jika bukan dari kesalahan?

Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna. Kenapa? Karena Tuhan tahu, bahwa manusia ciptaannya pasti akan berusaha untuk menutupi kekurangannya itu dengan kelebihannya masing-masing. Dengan cara apa? Melalui akal yang telah dianugerahkan Tuhan. Manusia dibekali akal agar tingkah laku manusia tidak sama seperti hewan. Dan jika manusia menggunakan akalnya dengan baik, maka pasti mereka akan berpikir tentang bagimana caranya menjadi lebih baik.
Seburuk-buruknya masalah. Sebuah makna yang berharga hanya dapat dipahami oleh mereka yang berpikir. Karena hanya merekalah yang akan menjadikan  masalah dari kesalahannya sebagai guru dalam berbenah diri. Bukan malah menyalahkan takdir yang sering dianggap tak adil, atau juga menganggap hidupnya sial. Mana mungkin Tuhan menciptakan manusia untuk diberi kesialan? Bukankah Tuhan itu maha penyayang?

Lagipula Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambanya. Lalu untuk apalagi kamu menyia-nyiakan kesempatan pembelajaran berharga itu? Berpikirlah positif. Belajarlah dari sebuah pengalaman. Jika kamu bisa belajar, tak hanya pelajaran berharga yang kamu dapat, tapi
juga kehidupan baru yang jauh lebih baik akan terlahir dari sosokmu yang semakin didewasakan oleh kesalahan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...