Hai.. Ini aku, masa lalumu. Bagaimana kabarmu saat ini? Aku berharap kamu dalam keadaan baik-baik saja. Lama tidak berjumpa. Jujur aku merindukanmu, walaupun rindu yang kurasa sudah tak sama lagi dengan rinduku dulu. Sebelum kata kita diantara kamu dan aku berakhir, mungkin rasa rindu ini tidak bisa disamakan dengan rindu yang kurasa saat ini.
Aku menulis surat ini karena aku ingin menghubungimu setelah sekian lama kita tidak bertemu dan memutuskan komunikasi. Kabar serta cerita harian darimu sudah tak lagi terlihat di ponselku. Dentingan notifikasi yang penuh darimu sudah tak terdengar lagi di telingaku. Dan aku sangat merindukan hal itu. Hari dimana kita berjumpa, saling bertegur sapa, melemparkan senyuman hangat terhadap satu sama lain, dan merasakan getaran berbeda di hati. Mungkin hal seperti itu sudah biasa kita lakukan di masa lalu. Tapi sekarang itu berubah menjadi hal tidak biasa dan sudah tak terjadi lagi. Jangankan bertegur sapa, menatap wajah saja sudah tidak mau.
Kesalahpahaman yang terjadi diantara kita di masa lalu. Ketidak inginan kita untuk saling mendengarkan, ternyata berdampak pada keadaan kita saat ini ya? Dulu, kamu selalu bersikap baik padaku – sebenarnya sekarang juga kau tetap baik, hanya saja berbeda – tapi sekarang? Kamu bertingkah seolah tak mengenaliku lagi. Tak ada tegur sapa yang mewarnai hati disetiap harinya. Ingin rasanya aku memutar balikkan waktu, akan ku gunakan untuk memperbaiki kesalahanku dulu padamu, memberanikan diri untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya padamu.
Namun apalah daya? Waktu sudah berlalu. Mengalir layaknya air membawa semua kenangan yang pernah terjadi, hingga hilang tak teringat olehmu. Tidak denganku. Tiada hari yang ku lewatkan tanpa memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan kita. Setidaknya, jika aku tidak bisa memilikimu. Izinkan aku untuk selalu dekat denganmu. Tak masalah bila kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa. Hatiku tidak akan hancur karena hal itu. Karena melihatmu tersenyum bahagia ketika bersamaku saja itu sudah lebih dari sekedar cukup bagiku.
Saat ini, apa yang aku impikan untuk bisa dekat lagi denganmu seperti dulu sudahlah sirna. Bagaikan matahari yang tenggelam di sebelah barat karena berputarnya bumi, sehingga menghapus sinar yang sedari tadi menerangi dunia. Berdoa agar dapat betemu denganmu melalui kesengajaan atau tidak, sepertinya sudah menjadi rutinitasku disetiap harinya. Ragu akan harapanku sempat aku rasakan,namun tak terlalu ku perdulikan. Kebahagiaan yang selalu menyertaimu disetiap hari, adalah doa yang tak pernah luput dari setiap permintaanku pada Yang Maha Esa.
Baiklah, karena kecil bagiku dan kamu untuk bertemu. Maka dari itu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Berupa pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan padamu sejak hari itu. Mengapa kamu menjauh? Apakah ada yang salah dengan pernyataanku yang pernah kamu dengar langsung dari mulutku? Merasa risih kah kamu ketika aku menyatakannya? Memandangku sebagai wanita aneh kah kamu ketika melihatku berdiri kaku dihadapanmu saat menyatakan isi hatiku padamu? Terkejutkah hatimu ketika mengetahui rasa sukaku padamu? Mengapa kamu meninggalkanku begitu saja dilorong sepi ketika aku baru usai menyatakannya padamu? Mengapa pula kamu bersikap seolah hari dimana aku menyatakannya tidak pernah terjadi? Sehingga kamu bertingkah seperti tak mengenalku hingga saat ini.
Masih banyak lagi yang ingin ku pertanyakan. Tapi tidak sekarang. Nanti. Saat kita bertemu, walaupun entah kapan kita akan bertemu. Namun aku yakin, semua yang ingin kusampaikan padamu, pasti akan tersampaikan. Walaupun sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu. Dengan cara apa Tuhan memberitahukan semua yang ingin kukatakan padamu.

Komentar
Posting Komentar