Langsung ke konten utama

Surat Dari Masa Lalumu


Hai.. Ini aku, masa lalumu. Bagaimana kabarmu saat ini? Aku berharap kamu dalam keadaan baik-baik saja. Lama tidak berjumpa. Jujur aku merindukanmu, walaupun rindu yang kurasa sudah tak sama lagi dengan rinduku dulu. Sebelum kata kita diantara kamu dan aku berakhir, mungkin rasa rindu ini tidak bisa disamakan dengan rindu yang kurasa saat ini.

Aku menulis surat ini karena aku ingin menghubungimu setelah sekian lama kita tidak bertemu dan memutuskan komunikasi. Kabar serta cerita harian darimu sudah tak lagi terlihat di ponselku. Dentingan notifikasi yang penuh darimu sudah tak terdengar lagi di telingaku. Dan aku sangat merindukan hal itu. Hari dimana kita berjumpa, saling bertegur sapa, melemparkan senyuman hangat terhadap satu sama lain, dan merasakan getaran berbeda di hati. Mungkin hal seperti itu sudah biasa kita lakukan di masa lalu. Tapi sekarang itu berubah menjadi hal tidak biasa dan sudah tak terjadi lagi. Jangankan bertegur sapa, menatap wajah saja sudah tidak mau.

Kesalahpahaman yang terjadi diantara kita di masa lalu. Ketidak inginan kita untuk saling mendengarkan, ternyata berdampak pada keadaan kita saat ini ya? Dulu, kamu selalu bersikap baik padaku – sebenarnya sekarang juga kau tetap baik, hanya saja berbeda – tapi sekarang? Kamu bertingkah seolah tak mengenaliku lagi. Tak ada tegur sapa yang mewarnai hati disetiap harinya. Ingin rasanya aku memutar balikkan waktu, akan ku gunakan untuk memperbaiki kesalahanku dulu padamu, memberanikan diri untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya padamu.

Namun apalah daya? Waktu sudah berlalu. Mengalir layaknya air membawa semua kenangan yang pernah terjadi, hingga hilang tak teringat olehmu. Tidak denganku. Tiada hari yang ku lewatkan tanpa memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki hubungan kita. Setidaknya, jika aku tidak bisa memilikimu. Izinkan aku untuk selalu dekat denganmu. Tak masalah bila kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa. Hatiku tidak akan hancur karena  hal itu. Karena melihatmu tersenyum bahagia ketika bersamaku saja itu sudah lebih dari sekedar cukup bagiku.

Saat ini, apa yang aku impikan untuk bisa dekat lagi denganmu seperti dulu sudahlah sirna. Bagaikan matahari yang tenggelam di sebelah barat karena berputarnya bumi, sehingga menghapus sinar yang sedari tadi menerangi dunia. Berdoa agar dapat betemu denganmu melalui kesengajaan atau tidak, sepertinya sudah menjadi rutinitasku disetiap harinya. Ragu akan harapanku sempat aku rasakan,namun tak terlalu ku perdulikan. Kebahagiaan yang selalu menyertaimu disetiap hari, adalah doa yang tak pernah luput dari setiap permintaanku pada Yang Maha Esa.

Baiklah, karena kecil bagiku dan kamu untuk bertemu. Maka dari itu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Berupa pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan padamu sejak hari itu. Mengapa kamu menjauh? Apakah ada yang salah dengan pernyataanku yang pernah kamu dengar langsung dari mulutku? Merasa risih kah kamu ketika aku menyatakannya? Memandangku sebagai wanita aneh kah kamu ketika melihatku berdiri kaku dihadapanmu saat menyatakan isi hatiku padamu? Terkejutkah hatimu ketika mengetahui rasa sukaku padamu? Mengapa kamu meninggalkanku begitu saja dilorong sepi ketika aku baru usai menyatakannya padamu? Mengapa pula kamu bersikap seolah hari dimana aku menyatakannya tidak pernah terjadi? Sehingga kamu bertingkah seperti tak mengenalku hingga saat ini.

Masih banyak lagi yang ingin ku pertanyakan. Tapi tidak sekarang. Nanti. Saat kita bertemu, walaupun entah kapan kita akan bertemu. Namun aku yakin, semua yang ingin kusampaikan padamu, pasti akan tersampaikan. Walaupun sesungguhnya aku sendiri juga tidak tahu. Dengan cara apa Tuhan memberitahukan semua yang ingin kukatakan padamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...