Kisah ini dimulai sejak aku mengenalmu. Sebuah kejadian yang tak pernah ku sangka ternyata telah membuka pintu kesempatan untuk mengubah kata ‘ aku dan kau ‘ menjadi ‘ kita ‘. Namun, kata itu sepertinya hanya pantas diperuntukkan bagi seseorang yang tengah berharap akan kehadiranmu dalam hidupnya, seperti aku. Kamu adalah kamu. Dan aku adalah aku. Tidak seharusnya kata ‘ kau dan aku ‘ berubah menjadi ‘ kita ‘. Kenapa? Karena keberadaanmu hanyalah menyimpan segudang pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Ya, berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Ingin rasanya aku mengutarakan semua pertanyaan itu padamu. Tapi tidak sekarang. Aku menunggu waktu yang tepat. Sama sepertimu, kau bilang akan mengatakan sesuatu padaku suatu hari nanti. Ketika aku tanya padamu tentang apa yang hendak kau katakan, kau enggan untuk menjawabnya, karena katamu, hal yang akan disampaikan kelak adalah mengenai isi hatimu padaku selama ini.
Sejak saat itu. Sikapmu pun berubah. Kau menjadi sosok lain yang membuat hatiku bergetar setiap kubaca pesan-pesan yang kau ketikkan untukku. Mengirimkan kata-kata manis dengan berbagai janji. Tidak seperti biasanya kau seperti itu padaku. Rasa risih tentu saja menghantuiku, walaupun sebenarnya aku tau bahwa hatiku sangat senang membaca pesan darimu. Bagaimana tidak? Kau telah memiliki orang lain. Seorang wanita yang kau jadikan sebagai pujaan hatimu kala itu. Tapi kenapa kau mengatakan akan menyampaikan isi hatimu padaku suatu hari nanti? Untuk apa kau terus menerus mengatakan bahwa kau akan menungguku? Untuk apa kau selalu memberikan perhatian serta pernyataan bahwa kau lebih bahagia denganku dibanding bersama dengannya, wanita yang kini kau miliki?
Aku terus memikirkan bagaimana perasaan wanita itu ketika ia tau bahwa kau tak hanya mengumbar kata manis padanya saja? Apa kau dapat mengobati dan memperbaiki hatinya yang terluka diakibatkan oleh dirimu? Tak bisakah kau mengerti akan perasan wanita? Bukan hanya dia yang kau sakiti. Tapi aku juga tersakiti. Rasa sakit itu melebihi rasa sakitku ketika aku tau bahwa kau telah menjadi milik orang lain.
Seringkali ku dengar kalimat penyesalan yang keluar dari mulutmu karena kau telah memilih dia. Kau berulangkali mencari-cari titik kesalahan dalam hubunganmu dengannya. Kau terus memojokkan dia yang kau anggap tidak menghargaimu. Kau bilang bahwa dia belum bisa melupakan seseorang yang menjadi masa lalunya. Jika kau tau bahwa dia belum bisa lupa, kenapa tidak kau coba untuk membantunya melupakan orang itu? Selama kau berhubungan dengannya, hanya rasa kesal yang sering kau utarakan ketika bercerita tentangnya padaku. Padahal sebenarnya, kaulah sumber masalah itu. Mengapa aku berkata demikian? Itu karena kau yang tidak pernah bisa percaya kepada orang yang kau pilih, yaitu dia.
Kerenggangan hubungan kalian terus berlanjut, hingga akhirnya kau mengatakan kata ‘ pisah ‘ pada kekasihmu. Dengan alasan dia tidak menghargaimu lagi. Padahal kenyataannya? Kaulah yang tak bisa menghargai perjuangannya untuk melupakan masa lalunya. Egomu telah menguasaimu. Berbagai saran telah ku berikan. Namun sepertinya dirimu tidak menerimanya. Aku melakukan semua itu adalah untuk mempertahankan hubunganmu dengannya. Aku hanya tidak ingin melihat wanita lain tersakiti olehmu, sama seperti diriku yang tersakiti oleh kalimat manis penuh kebohongan yang kau sampaikan padaku.
Awalnya aku mengira kau akan menghentikan hal itu ketika sudah bersama dia. Tapi ternyata aku salah. Salah besar. Kau masih saja melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan jauh sebelum mengenal dan memilikinya.
Aku hanya berdoa, agar suatu hari nanti Tuhan dapat menyadarkanmu, bahwa apa yang kau lakukan selama ini terhadapku dan juga padanya adalah sebuah kesalahan. Tidak sepantasnya kau melakukan itu pada dua orang wanita. Mungkin aku akan merasa baik-baik saja dengan perlakuanmu, tapi apa kabar dengannya? Apa dia dapat menerima maafmu ketika dia tau jika ternyata selama ini kau memberikan perhatian lebih padaku? Apakah dia masih mau mendengarkan penjelasanmu? Masihkan dia ingin menoleh kearahmu lagi? Dan akankah dia bertahan denganmu? Aku yakin jawaban dari semua pertanyaan itu adalah tidak.
Tidak? Kenapa? Mungkin dua pertanyaan itulah yang akan kau pertanyakan. Kemudian aku akan menjawab bahwa keadaan kini berbalik padamu. Jika dulu kau selalu menyalahkannya akibat kesalahpahaman yang kau alami, padahal pada kenyataannya kau tidak mengetahui persis apa alasannya melakukan itu.
Sekarang,Giliran dirimu yang akan merasakan berada diposisinya. Kau akan merasa bagaimana sakitnya disalahkan olehnya secara bertubi-tubi. Kau akan menerima perlawanan balik dari dia yang kau sakiti. Kau selama ini menganggap bahwa ia telah berbohong padamu, padahal sebenarnya kaulah si pembohong itu. Kau selama ini menganggap bahwa ia tidak menghargaimu, namun pada kenyataannya? Kaulah yang tidak menghargainya. Kau akan merasakan bagaimana rasanya, ketika penjelasanmu tak akan didengar olehnya. Kau akan mengalami masa penyesalan yang begitu dalam. Kau akan menerima balasan dari apa yang pernah dilakukan olehmu. Dan perlahan, kau juga akan merasakan pedihnya kehilangan.

Komentar
Posting Komentar