Langsung ke konten utama

Aku, Kau & Dia


Kisah ini dimulai sejak aku mengenalmu. Sebuah kejadian yang tak pernah ku sangka ternyata telah membuka pintu kesempatan untuk mengubah kata ‘ aku dan kau ‘ menjadi ‘ kita ‘. Namun, kata itu sepertinya hanya pantas diperuntukkan bagi seseorang yang tengah berharap akan kehadiranmu dalam hidupnya, seperti aku. Kamu adalah kamu. Dan aku adalah aku. Tidak seharusnya kata ‘ kau dan aku ‘ berubah menjadi ‘ kita ‘. Kenapa? Karena keberadaanmu hanyalah menyimpan segudang pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Ya, berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Ingin rasanya aku mengutarakan semua pertanyaan itu padamu. Tapi tidak sekarang. Aku menunggu waktu yang tepat. Sama sepertimu, kau bilang akan mengatakan sesuatu padaku suatu hari nanti. Ketika aku tanya padamu tentang apa yang hendak kau katakan, kau enggan untuk menjawabnya, karena katamu, hal yang akan disampaikan kelak adalah mengenai isi hatimu padaku selama ini.

Sejak saat itu. Sikapmu pun berubah. Kau menjadi sosok lain yang membuat hatiku bergetar setiap kubaca pesan-pesan yang kau ketikkan untukku. Mengirimkan kata-kata manis dengan berbagai janji. Tidak seperti biasanya kau seperti itu padaku. Rasa risih tentu saja menghantuiku, walaupun sebenarnya aku tau bahwa hatiku sangat senang membaca pesan darimu. Bagaimana tidak? Kau telah memiliki orang lain. Seorang wanita yang kau jadikan sebagai pujaan hatimu kala itu. Tapi kenapa kau mengatakan akan menyampaikan isi hatimu padaku suatu hari nanti? Untuk apa kau terus menerus mengatakan bahwa kau akan menungguku? Untuk apa kau selalu memberikan perhatian serta pernyataan bahwa kau lebih bahagia denganku dibanding bersama dengannya, wanita yang kini kau miliki?

Aku terus memikirkan bagaimana perasaan wanita itu ketika ia tau bahwa kau tak hanya mengumbar kata manis padanya saja? Apa kau dapat mengobati dan memperbaiki hatinya yang terluka diakibatkan oleh dirimu? Tak bisakah kau mengerti akan perasan wanita? Bukan hanya dia yang kau sakiti. Tapi aku juga tersakiti. Rasa sakit itu melebihi rasa sakitku ketika aku tau bahwa kau telah menjadi milik orang lain.

Seringkali ku dengar kalimat penyesalan yang keluar dari mulutmu karena kau telah memilih dia. Kau berulangkali mencari-cari titik kesalahan dalam hubunganmu dengannya. Kau terus memojokkan dia yang kau anggap tidak menghargaimu. Kau bilang bahwa dia belum bisa melupakan seseorang yang menjadi masa lalunya. Jika kau tau bahwa dia belum bisa lupa, kenapa tidak kau coba untuk membantunya melupakan orang itu? Selama kau berhubungan dengannya, hanya rasa kesal yang sering kau utarakan ketika bercerita tentangnya padaku. Padahal sebenarnya, kaulah sumber masalah itu. Mengapa aku berkata demikian? Itu karena kau yang tidak pernah bisa percaya kepada orang yang kau pilih, yaitu dia.

Kerenggangan hubungan kalian terus berlanjut, hingga akhirnya kau mengatakan kata ‘ pisah ‘ pada kekasihmu. Dengan alasan dia tidak menghargaimu lagi. Padahal kenyataannya? Kaulah yang tak bisa menghargai perjuangannya untuk melupakan masa lalunya. Egomu telah menguasaimu. Berbagai saran telah ku berikan. Namun sepertinya dirimu tidak menerimanya. Aku melakukan semua itu adalah untuk mempertahankan hubunganmu dengannya. Aku hanya tidak ingin  melihat wanita lain tersakiti olehmu, sama seperti diriku yang tersakiti oleh kalimat manis penuh kebohongan yang kau sampaikan padaku.

Awalnya aku mengira kau akan menghentikan hal itu ketika sudah bersama dia. Tapi ternyata aku salah. Salah besar. Kau masih saja melakukan hal yang sama dengan apa yang  kau lakukan jauh sebelum mengenal dan memilikinya.

Aku hanya berdoa, agar suatu hari nanti Tuhan dapat menyadarkanmu, bahwa apa yang kau lakukan selama ini terhadapku dan juga padanya adalah sebuah kesalahan. Tidak sepantasnya kau melakukan itu pada dua orang wanita. Mungkin aku akan merasa baik-baik saja dengan perlakuanmu, tapi apa kabar dengannya? Apa dia dapat menerima maafmu ketika dia tau jika ternyata selama ini kau memberikan perhatian lebih padaku? Apakah dia masih mau mendengarkan penjelasanmu? Masihkan dia ingin menoleh kearahmu lagi? Dan akankah dia bertahan denganmu? Aku yakin jawaban dari semua pertanyaan itu adalah tidak.

Tidak? Kenapa? Mungkin dua pertanyaan itulah yang akan kau pertanyakan. Kemudian aku akan menjawab bahwa keadaan kini berbalik padamu. Jika dulu kau selalu menyalahkannya akibat kesalahpahaman yang kau alami, padahal pada kenyataannya kau tidak mengetahui persis apa alasannya melakukan itu.

Sekarang,Giliran dirimu yang akan merasakan berada diposisinya. Kau akan merasa bagaimana sakitnya disalahkan olehnya secara bertubi-tubi. Kau akan menerima perlawanan balik dari dia yang kau sakiti. Kau selama ini menganggap bahwa ia telah berbohong padamu, padahal sebenarnya kaulah si pembohong itu. Kau selama ini menganggap bahwa ia tidak menghargaimu, namun pada kenyataannya? Kaulah yang tidak menghargainya. Kau akan merasakan bagaimana rasanya, ketika penjelasanmu tak akan didengar olehnya. Kau akan mengalami masa penyesalan yang begitu dalam. Kau akan menerima balasan dari apa yang pernah dilakukan olehmu. Dan perlahan, kau juga akan merasakan pedihnya kehilangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...