Untukmu. Aku ingin berterima kasih. Karenamu, aku memiliki semangat untuk berubah. Karena hadirmu, aku belajar untuk menghargai sebuah keberadaan. Walaupun akhirnya aku harus merelakanmu. Tapi aku ikhlas, karena aku yakin itu adalah yang terbaik untukmu dan juga untukku. Lagipula sebagai manusia biasa, sudah seharusnya mengharap yang terbaik kan? walaupun yang terbaik menurut-Nya belum tentu bisa kita terima dengan utuh.
Bertemu denganmu bukanlah kejadian yang bisa ku rencanakan. Begitu pula ketika aku jatuh hati padamu. Tak ada alasan bagiku untuk menjatuhkan hati padamu. Yang ku tau adalah, aku bahagia dengan rasa ini. Entah itu mencintai atau hanya menyukai. Tapi aku nyaman dengan ketidakpastian rasaku. Disertai berbagai risiko sakit hati yang menanti, aku berusaha bertahan selagi bisa.
Pernah aku dibuat bingung dengan pertanyaan dari orang-orang,
" Kenapa kamu semudah itu jatuh hati padanya? "
Jujur saja, aku hanya membungkam. Diam seribu bahasa. Aku begitu bukan karena aku tak bisa jawab. Tapi karena aku tau bahwa rasa ini tidak memiliki alasan yang bisa mereka pahami. Dan aku memilih mengabaikan pertanyaan itu. Menetap pada rasaku yang terlanjur yakin pada sosokmu yang tak pasti untukku.
Aku juga merasa bersyukur karena dipertemukan denganmu. Apalagi mengenalmu. Aku jadi tau tentang bagaimana mengerti sebuah perbedaan. Seperti perbedaan rasa, aku sadar bahwa kamu tak memiliki rasa yang sama denganku. Dan aku mengerti itu, bahwa rasa tak bisa dipaksa. Tidak hanya perihal mengerti. Tapi juga membiasakan. Melihat sosokmu yang begitu dingin dan terkesan tak peduli, aku harus terbiasa. Awalnya kaget, setidak peduli itu kah kamu? Tapi seiring berjalannya waktu, aku jadi terbiasa dengan sikapmu itu. Dan dari situ aku belajar untuk menerima. Lebih tepatnya menerima kenyataan. Menerimamu yang seperti itu, dan menerima fakta menyakitkan perihal kamu yang ternyata tidak menganggapku ada. Mau tak mau, aku harus menerima.
Balasan berupa ucapan terima kasih-mu yang pertama padaku beberapa waktu lalu - dan mungkin akan menjadi yang terakhir- , adalah hal luar biasa yang pernah terjadi selama ini. Rasanya kaget, senang, juga haru. Bersatu padu dalam sebuah rasa yang sekarang entah. Sekali lagi, terima kasih ya. Kepada kamu yang hadir sesaat dan berhasil meninggalkan kenangan di lembaran baru ceritaku. Aku yakin, kenangan singkat itu akan menjadi kisah panjang yang mengisi lembaran-lembaran berikutnya. Walaupun aku sendiri tidak tau, bagaimana caraku untuk mengisi lembaran berikutnya setelah kepergianmu.

Komentar
Posting Komentar