Langsung ke konten utama

Sebuah Ucapan Terima Kasih


Untukmu. Aku ingin berterima kasih. Karenamu, aku memiliki semangat untuk berubah. Karena hadirmu, aku belajar untuk menghargai sebuah keberadaan. Walaupun akhirnya aku harus merelakanmu. Tapi aku ikhlas, karena aku yakin itu adalah yang terbaik untukmu dan juga untukku. Lagipula sebagai manusia biasa, sudah seharusnya mengharap yang terbaik kan? walaupun yang terbaik menurut-Nya belum tentu bisa kita terima dengan utuh.

Bertemu denganmu bukanlah kejadian yang bisa ku rencanakan. Begitu pula ketika aku jatuh hati padamu. Tak ada alasan bagiku untuk menjatuhkan hati padamu. Yang ku tau adalah, aku bahagia dengan rasa ini. Entah itu mencintai atau hanya menyukai. Tapi aku nyaman dengan ketidakpastian rasaku. Disertai berbagai risiko sakit hati yang menanti, aku berusaha bertahan selagi bisa.

Pernah aku dibuat bingung dengan pertanyaan dari orang-orang,

 " Kenapa kamu semudah itu jatuh hati padanya? "

Jujur saja, aku hanya membungkam. Diam seribu bahasa. Aku begitu bukan karena aku tak bisa jawab. Tapi karena aku tau bahwa rasa ini tidak memiliki alasan yang bisa mereka pahami. Dan aku memilih mengabaikan pertanyaan itu. Menetap pada rasaku yang terlanjur yakin pada sosokmu yang tak pasti untukku.

Aku juga merasa bersyukur karena dipertemukan denganmu. Apalagi mengenalmu. Aku jadi tau tentang bagaimana mengerti sebuah perbedaan. Seperti perbedaan rasa, aku sadar bahwa kamu tak memiliki rasa yang sama denganku. Dan aku mengerti itu, bahwa rasa tak bisa dipaksa. Tidak hanya perihal mengerti. Tapi juga membiasakan. Melihat sosokmu yang begitu dingin dan terkesan tak peduli, aku harus terbiasa. Awalnya kaget, setidak peduli itu kah kamu? Tapi seiring berjalannya waktu, aku jadi terbiasa dengan sikapmu itu. Dan dari situ aku belajar untuk menerima. Lebih tepatnya menerima kenyataan. Menerimamu yang seperti itu, dan menerima fakta menyakitkan perihal kamu yang ternyata tidak menganggapku ada. Mau tak mau, aku harus menerima.

Balasan berupa ucapan terima kasih-mu yang pertama padaku beberapa waktu lalu -  dan mungkin akan menjadi yang terakhir- , adalah hal luar biasa yang pernah terjadi selama ini. Rasanya kaget, senang, juga haru. Bersatu padu dalam sebuah rasa yang sekarang entah. Sekali lagi, terima kasih ya. Kepada kamu yang hadir sesaat dan berhasil meninggalkan kenangan di lembaran baru ceritaku. Aku yakin,  kenangan singkat itu akan menjadi kisah panjang yang mengisi lembaran-lembaran berikutnya. Walaupun aku sendiri tidak tau, bagaimana caraku untuk mengisi lembaran berikutnya setelah kepergianmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Gitu....

Sudah lama ya kita tidak bertukar kabar? Terakhir kali aku mengabarimu adalah saat seminggu pertama puasa. Itu pun responnya tidak enak. Seperti ada yang berubah, itu yang kurasa. Sekarang, kamu bukanlah sosok yang kukenal selama setahun ke belakang. Kamu sudah banyak berubah. Atau mungkin kamu memang sengaja mengubah? Aku bisa memperhatikan perubahan itu dari caramu merespon pesan-pesan dariku. Kamu jadi lebih dingin dari biasanya. Dulu, aku pikir kamu adalah sosok receh yang bisa selalu diajak bercanda, dan bisa memosisikan diri di setiap keadaan. Tapi semenjak respon itu, aku tidak berpikir begitu lagi. Sempat heran dan merasa bersalah. Tidak heran, aku memang selalu merasa bersalah kepada orang-orang yang tiba-tiba merubah sikapnya padaku. Kamu tau itu kan? Kamu berubah. Seiring berjalannya waktu, aku semakin bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Dari berbagai hal yang dapat kulihat dan kurasakan. Mungkin kamu sudah tidak membutuhkan kehadiranku lagi. Aku yakin itu. Katamu, ti...

Melepasmu

Melepasmu adalah keputusan terberat yang harus kupilih. Mau tidak mau, rela tidak rela, aku memang harus melepasmu. Seperti menjadi kewajibanku untuk membiarkanmu bebas demi sesuatu yang seharusnya menjadi kebahagiaanmu. Terbebas dari apa yang membuatmu merasa terpaksa. Terbebas dari rasa yang kau usahakan untuk terus ada. Berusaha memberiku hati walau hatimu tak sanggup memberinya. Keadaanku denganmu tak lagi sama. Namun kenangan bersamamu akan menjadi pemanis kisah. Seolah kenangan itu menjadi melodi disetiap hari-hariku. Perlahan waktu membawamu kembali padanya. Aku paham, bahwa aku bukanlah orang yang kau jadikan sebagai tujuan terakhir, melainkan dia. Sampai akhirnya aku harus merelakan sosokmu yang mulai berpaling padanya. Ketika aku mengerti maksud dari hadirmu. Aku tersadar bahwa ternyata kamu tidak benar-benar ingin menetap. Bisa dibilang kamu hanya datang untuk sekedar singgah. Lalu pulang tanpa pamit dan menyisakan kenangan manis yang harus kutelan pahit. Sikapmu y...

Tentang Sebuah Langkah

Kamu tau, setiap detik yang kulalui terasa begitu berharga ketika bersamamu. Arah langkahku terasa lebih terang bila diiringi langkahmu juga. Berada di sampingmu untuk sementara waktu, ternyata mampu menenangkan batinku. Mendengar suaramu, aku jadi terpikir untuk menurunkan intonasi berbicara. Melihat bagaimana caramu bersikap, aku jadi mengerti tentang menempatkan diri pada suatu keadaan bila bersamamu. Pada intinya, darimu aku banyak belajar. Tentang hal apapun itu. Dari hal kecil hingga ke yang besar sekalipun. Aku baru sadar, ternyata rasanya semenyenangkan ini. Ketika bersamamu, aku tidak bisa lagi berpikir untuk menyepelekan suatu perkara. Dengan caramu yang selalu mengingatkanku untuk bersikap, aku merasa senang karena ada yang mengingatkan. Karena sebelumnya, sepertinya tak ada yang peduli dengan apa yang kulakukan, salah atau benar, mereka acuh. Bahkan sangat acuh. Berbeda halnya ketika kamu ada, mungkin kamu tidak memperhatikan, hanya saja peka dengan keadaan. Sehingga...